Pendidikan dan Karakter Bangsa

(Senin, 09 April 2012)


By: Asranuddin*)
Pendidikan diyakini sebagai titik kunci untuk mencapai peradaban suatu bangsa. Betapa tidak, karena pendidikan membuat manusia untuk memiliki sebuah cita atau strategi untuk membebaskan manusia dari belenggu keterbelakangan. Pendidikan sejatinya dapat mengaktualisasikan potensi-potensi kreativitas manusia sehingga ia dapat melakukan sesuatu dengan menggunakan rasionalitasnya sehingga ia dapat meyingkap seluruh misteri kehidupan yang melingkupinya. Pendidikan pada akhirnya akan mengantarkan ummat manusia kepada peradaban yang luhur dan tidak meninggalkan nilai-nilai humanisme dan transendensi.
Di setiap peradaban yang pernah lahir di dunia ini, mulai dari Peradaban Sumeria di dekat sungai Tigris, Irak --berhasil merumuskan tulisan pertama di jagad ini dengan huruf paku--, Peradaban Mesir kuno dengan aksara hieroglif dan penemuan papirus sebagai media tulisan, Perabadan Cina --menemukan kertas--, Peradaban Yunani --kemajuan filsafat--, Peradaban Islam --kemajuan ilmu pengetahuan modern, seperti kedokteran, aritmatika, perbintangan, sosiologi, dll--, Peradaban Eropa/Barat semangat Aufklarung menempatkan pendidikan sebagai faktor utama dalam mencapai kemajuan. Bahkan di bangsa/nusantara kita telah mengenal tulisan huruf Jawi, huruf Lontara' dan karya-karya sastra yang diakui oleh dunia, misalnya Kitab I Lagaligo, Kitab Kertagama, Kitab Sutasoma dan karya-karya monumental, candi Borobudur, Prambanan, berabad-abad silam. Ini membuktikan bahwa bangsa kita pernah maju dalam bidang ilmu pengetahuan dan berhasil merumuskan tulisannya sendiri, yang merupakan fakta yang tidak bisa diingkari sebagai dasar dari ilmu pengetahuan dan peradaban.


Pendidikan sebagaimana yang sering didengungkan, mulai dari bangku Sekolah Dasar bahwa tujuan pendidikan kita adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan demikian konsekwensi logis dari itu adalah usaha-usaha yang sadar dan tersistematis untuk mencapat derajat itu. Sebagaimana yang termaktub dalam Mukaddimah UUD tahun 1945, yang merupakan amanah suci yang harus segera ditunaikan. Derajat manusia suatu bangsa sebagaimana yang sering dijadikan sebagai tolok ukur kemajuannya bangsa adalah salah satunya pendidikan. Dengan demikian sangatlah benar apa yang telah dirumuskan oleh para founding father bangsa.
Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan merupakan daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup, yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakat. Defenisi itu jelas memberikan tujuan pendidikan yang hendak kita capai sebagai dasar dari penyelenggaraan pendidikan di tanah air kita--Indonesia. Bahwa pendidikan bukan hanya bersifat rasio--intelectual an sich, tetapi juga kecerdasan hati, nurani, moralitas serta kecerdasan untuk menghargai alam semesta serta kecerdasan yang bertalian dengan transendensi --Allah Yang Maha Mengetahui--. Tentunya ini pun bertalian dengan karakter atau jati diri manusia yang berbudi pekerti yang luhur yang melahirkan sikap-sikap terpuji yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai atau norma sosial, baik nilai agama, nilai kebudayaan, nilai hukum yang berlaku dalam masyarakat Indonesia. Dari pendidikan yang berciri seperti inilah kita mengharapkan manusia-manusia unggul, berkarakter yang akan mengisi peradaban di Indonesia--dari Sabang sampai Merauke--.* Mahasiswa Pascasarjana UNM-Staf Komisi Pendidikan PB HMI

Posted in Diposting oleh asra di 22.03  

0 komentar: